Secara umum itsar (الإيثار) adalah mendahulukan
orang lain dari pada diri sendiri. Satu sifat yang mungkin sudah agak sulit
kita temukan kini. Padahal itsar adalah salah satu akhlak yang paling utama.
Bahkan dalam beberapa tulisan tentang tingkatan ukhuwah, itsar berada pada
tingkatan tertinggi dalam implementasi ukhuwah islamiyah. Hal ini
dirasa sangat wajar jika kita merujuk pada salah satu hadits nabi, “Tidak
beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai
dirimu sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
Alangkah indahnya dunia ini jika setiap orang bisa
mengamalkan hadits tersebut dengan sempurna. Alangkah damainya bumi yang kita
tinggali ini jika orang-orang mampu menjadikan kepentingan orang lain lebih
utama ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Walau kenyataan yang kita hadapi
kini mungkin cukup jauh panggang dari api.
Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa konsep itsar ini
merupakan satu sikap yang sangat sulit ditemukan baik dulu hingga kini. Karena
banyak anggapan yang menyatakan bahwa fitrah manusia adalah mendahulukan
kepentingannya sendiri dibanding kepentingan orang lain dan agak sulit
dibayangkan ada seseorang yang mau mendahulukan kepentingan orang lain
dibanding kepentingannya sendiri. Namun sungguh mudah contoh implementasi itsar
ini kita temukan padadi masa generasi terbaik umat ini. Yaa, kita akan dengan
mudah mendapat berbagai kisah hikmah tentang Rasulullah Muhammad SAW dan para
sahabatnya yang berhasil memberikan teladan mulia akhlak itsar.
Begitu besar kemuliaan yang akan disandangkan bagi mereka
yang mampu melakukan itsar dalam kehidupannya. Ada banyak ganjaran kebaikan
yang telah menunggu bagi mereka yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain
ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Beberapa keutamaan dari akhlak itsar
diantaranya:
- Dicintai Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda,
“Orang yang paling dicintai olehAllah ‘Azza wa jalla adalah
yang paling banyak memberi manfaat kepada oranglain. Amalan yang paling
dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim,
menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa
laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk
menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf dimasjid ini
(Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang
saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan
meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir.
Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak
madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)
- Dicintai manusia
Hanya dengan menggunakan logika sederhana saja kita akan
dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa sifat itsar ini akan mampu menghadirkan
rasa cinta orang lain kepada mereka para pelakunya.
Sahl bin Sa’d as-Sa’idy–radhiallahu ‘anhu berkata,
“Seseorang mendatangi Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku
suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai
pula oleh sekalian manusia.” Rasulmenjawab, “Zuhudlah terhadap dunia,
niscaya kamu akan dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki
manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat
hasan)
Jika seorang yang zuhud terhadap apa yang dimilikinya
di dunia akan dicintai oleh saudara-saudaranya, kerabat dan teman-temannya.
Maka, itsar, mendahulukan kepentingan saudaranya dibandingkan dengan dirinya
sendiri,pasti akan menumbuhkan kecintaan yang lebih besar daripada itu.
Karena tabiat seseorang adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan
berkorban untuknya.
- Dimudahkan urusannya di dunia dan di akhirat
Dalam salah satu hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW
bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya
Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang
kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) didunia dan di akhirat.
Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya)
di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba
tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Seseorang yang gemar membantu orang lain, memudahkan banyak
urusan orang lain, bahkan lebih mengutamakan kepentingan orang lain
dibanding kepentingannya sendiri tentu akan memperoleh banyak simpati dari
orang-orang di sekitarnya, terlebih lagi oleh mereka yang pernah dimudahkan
urusannya dan dibantu penyelesaian masalahnya sehingga akan menimbulkan rasa
hutang budi. Oleh karena itu, orang lain yang pernah dibantu tersebut tentu
akan berupaya untuk membalas kebaikan orang yang telah membantunya itu.
Selain tiga kebaikan yang telah disebutkan di atas, tentu
ada masih banyak lagi hikmah dan kebaikan yang akan muncul dari adanya sifat
itsar dalam diri manusia.
Belajar
dari Para Sahabat
Para sahabat Rasulullah SAW telahberhasil membuat kita
terpana dengan baiknya akhlak mereka. Mereka yang pernah bertatap muka dan
ditarbiyah langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan sangat mengagumkan
mampu mempraktekkan sikap itsar dan akhlak baik lainnya yang telah lebih dahulu
dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan mereka
bahkan diakui lewat sabda nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada
zamanku (sahabat) , kemudian setelah mereka (Tabi’in), kemudian setelah
mereka(Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari).
1. Kisah tiga sahabat di perang yarmuk
Ini mungkin salah satu kisah yang paling menyentuh dari
banyak kisah sahabat yang pernah diriwayatkan. Kisah tiga orang sahabat Nabi di
Perang Yarmuk yang dengan sempurna memberikan contoh kepada kita tentang apa
itu itsar. Kisah ini terjadi pada akhir Perang Yarmuk. Saat itu ada tiga orang
mujahid yang terkapar dalam kondisi kritis. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam,
Ayyasy bin Abi Rabi'ah, dan Ikrimah bin Abu Jahal.
Ketika itu Al-Harits meminta air minum. Ketika air
didekatkan ke mulutnya, ia mengetahui kondisi Ikrimah juga dalamkeadaan yang
mengkhawatirkan sepertiyang ia alami. Lalu ia pun berkata kepada si pembawa
air, "Berikan dulu kepada Ikrimah,". Seketika itu pula si
pembawa air menuju tempat Ikrimah tergeletak tak berdaya untuk memberikan air
kepadanya. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok
kepadanya. Ia juga melihat Ayyash sedang dalam kondis kritis seperti dirinya
atau bahkan mungkin lebih parah lagi. Lalu dengan tegas Ikrimah berkata kepada
si pembawa air, "Berikan dulu kepada Ayyasy!". Si pembawa air
pun langsung menuju tempat Ayyash. Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy,
ternyata didapatinya Ayyashs telah syahid. Orang yang memberikan air minum
segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun ia juga mendapati bahwa
keduanya telah menemuisyahidnya.
2. Kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim
Abu Hurairah berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada
Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah
menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya,
namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak
memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang
lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang
sama. Kemudian Rasulullah bersabda: “Siapakah yang akan menjamu tamu ini,
semoga Allah merahmatinya”.
Maka berdirilah salah seorang Anshar, yaitu Abu Thalhah
seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi
menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu
Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya
melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman
kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan
saya perlihatkan bahwa saya ikut makan,apabila makanan sudah berada di tangan
maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara
kedua suami-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya
keduanya datang kepada Rasulullahlalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah
takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain,
Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua
lakukan terhadap tamu kalian” .
Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri
mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”
(Q.S.Al-Hasyr :9).
Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau
bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah
pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an
yang senantiasa dibaca.
3. Kisah Pembebasan sumur oleh Utsman Bin Affan.
Setelah kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka
kembali mendapatkan kesulitan. Ternyata sumber air utama di kota itu berupa
sumur yang telah dimonopoli oleh pemiliknya yakni seorang Yahudi. Air dijual
dengan harga tinggi oleh pemiliknya itu.
Hal ini membuat kaum muslimin mengalami kesulitan, karena di
tanah arab tidak terdapat sungai dan jauh dari sumber air, maka sumur itu
menjadi salah satu sumber kehidupan yang sangat penting.
Kemudian Rasulullah SAW menyerukan kepada para sahabat agar
ada yang bersedia membeli sumur itu untuk dipergunakan bagi kepentingan ummat.
Utsman bin Affan tidak menyiakan kesempatan itu, beliau menyambut seruan
Rasulullah dengan mendatangi tempat Yahudi pemilik sumur.
Awalnya yahudi itu mematok harga sumur tersebut 20.000
dirham. Namun, karena yang membeli seorang muslim, dia ingin memperoleh
keuntungan yang sangat besar dari sumur tersebut, si Yahudi bergeming tidak
ingin menjual sumurnya. Utsman tak kalah cerdik, demi kepentingan ummat Islam,
beliau melakukan negosiasi, beliau bersedia membayar 60% dari harga yang
ditetapkan, yakni dengan harga 12.000 dirham (seharga 2,5 kgemas saat itu) dan
sumur itu digunakan bergantian, sehari jatah si Yahudi menjual air sumur,
sehari kemudian milik Utsman menjual air sumur. Tentu sajaYahudi itu setuju,
karena dia berpikir akan menerima keuntungan berlipat ganda.
Pada giliran hak Utsman, maka umat muslim diperbolehkan
mengambil air gratis bahkan dihimbau mengambil air sebanyak-banyaknya yang
cukup untuk 2 hari. Maka ketika tiba giliran hak Yahudi, tidak satupun orang
yang membeli air. Si Yahudi merasa sangat rugi karena tidak ada lagi yang
membeli airnya, maka akhirnya dijual sisa haknya atas sumur itu kepada Utsman
dengan harga 8.000 dirham. Sejak saat itu sumur tersebut dapat dimanfaatkan
dengan mudah bagi siapa saja, termasuk si Yahudi tadi.
Itulah sedikit kisah dari para sahabat Rasulullah SAW dalam
mengimplementasikan nilai itsar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang pernah
langsung menatap wajah Rasulullah, berjalan bersama beliau, dan ditarbiyah
langsung oleh Rasulullah seperti begitu mudahnya menerapkan nilai itsar dalam
kehidupan mereka. Semoga kita juga bisa melakukan apa yang telah dicontohkan
oleh mereka dan menunjukkan pada dunia bahwa islam adalah agama yang menjadi
rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a’lam bis shawab.