Rabu, 05 Agustus 2015

Belajar Itsar Dari Para Sahabat

Secara umum itsar (الإيثار) adalah mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. Satu sifat yang mungkin sudah agak sulit kita temukan kini. Padahal itsar adalah salah satu akhlak yang paling utama. Bahkan dalam beberapa tulisan tentang tingkatan ukhuwah, itsar berada pada tingkatan tertinggi dalam implementasi ukhuwah islamiyah. Hal ini dirasa sangat wajar jika kita merujuk pada salah satu hadits nabi, “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
Alangkah indahnya dunia ini jika setiap orang bisa mengamalkan hadits tersebut dengan sempurna. Alangkah damainya bumi yang kita tinggali ini jika orang-orang mampu menjadikan kepentingan orang lain lebih utama ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Walau kenyataan yang kita hadapi kini mungkin cukup jauh panggang dari api.
Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa konsep itsar ini merupakan satu sikap yang sangat sulit ditemukan baik dulu hingga kini. Karena banyak anggapan yang menyatakan bahwa fitrah manusia adalah mendahulukan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan orang lain dan agak sulit dibayangkan ada seseorang yang mau mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri. Namun sungguh mudah contoh implementasi itsar ini kita temukan padadi masa generasi terbaik umat ini. Yaa, kita akan dengan mudah mendapat berbagai kisah hikmah tentang Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya yang berhasil memberikan teladan mulia akhlak itsar.
Begitu besar kemuliaan yang akan disandangkan bagi mereka yang mampu melakukan itsar dalam kehidupannya. Ada banyak ganjaran kebaikan yang telah menunggu bagi mereka yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Beberapa keutamaan dari akhlak itsar diantaranya:
  1. Dicintai Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda,
“Orang yang paling dicintai olehAllah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada oranglain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf dimasjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)
  1. Dicintai manusia
Hanya dengan menggunakan logika sederhana saja kita akan dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa sifat itsar ini akan mampu menghadirkan rasa cinta orang lain kepada mereka para pelakunya.

Sahl bin Sa’d as-Sa’idy–radhiallahu ‘anhu berkata, “Seseorang mendatangi Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekalian manusia.” Rasulmenjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu akan dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat hasan)
Jika seorang yang zuhud  terhadap apa yang dimilikinya di dunia akan dicintai oleh saudara-saudaranya, kerabat dan teman-temannya. Maka, itsar, mendahulukan kepentingan saudaranya dibandingkan dengan dirinya sendiri,pasti  akan menumbuhkan kecintaan yang lebih besar daripada itu. Karena tabiat seseorang adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan berkorban untuknya.
  1. Dimudahkan urusannya di dunia dan di akhirat
Dalam salah satu hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) didunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Seseorang yang gemar membantu orang lain, memudahkan banyak urusan orang lain, bahkan  lebih mengutamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri tentu akan memperoleh banyak simpati dari orang-orang di sekitarnya, terlebih lagi oleh mereka yang pernah dimudahkan urusannya dan dibantu penyelesaian masalahnya sehingga akan menimbulkan rasa hutang budi. Oleh karena itu, orang lain yang pernah dibantu tersebut tentu akan berupaya untuk membalas kebaikan orang yang telah membantunya itu.
Selain tiga kebaikan yang telah disebutkan di atas, tentu ada masih banyak lagi hikmah dan kebaikan yang akan muncul dari adanya sifat itsar dalam diri manusia.
Belajar dari Para Sahabat
Para sahabat Rasulullah SAW telahberhasil membuat kita terpana dengan baiknya akhlak mereka. Mereka yang pernah bertatap muka dan ditarbiyah langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan sangat mengagumkan mampu mempraktekkan sikap itsar dan akhlak baik lainnya yang telah lebih dahulu dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan mereka bahkan diakui lewat sabda nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku (sahabat) , kemudian setelah mereka (Tabi’in), kemudian setelah mereka(Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari).
1. Kisah tiga sahabat di perang yarmuk
Ini mungkin salah satu kisah yang paling menyentuh dari banyak kisah sahabat yang pernah diriwayatkan. Kisah tiga orang sahabat Nabi di Perang Yarmuk yang dengan sempurna memberikan contoh kepada kita tentang apa itu itsar. Kisah ini terjadi pada akhir Perang Yarmuk. Saat itu ada tiga orang mujahid yang terkapar dalam kondisi kritis. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi'ah, dan Ikrimah bin Abu Jahal.

Ketika itu Al-Harits meminta air minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia mengetahui kondisi Ikrimah juga dalamkeadaan yang mengkhawatirkan sepertiyang ia alami. Lalu ia pun berkata kepada si pembawa air,  "Berikan dulu kepada Ikrimah,". Seketika itu pula si pembawa air menuju tempat Ikrimah tergeletak tak berdaya untuk memberikan air kepadanya. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok kepadanya. Ia juga melihat Ayyash sedang dalam kondis kritis seperti dirinya atau bahkan mungkin lebih parah lagi. Lalu dengan tegas Ikrimah berkata kepada si pembawa air,  "Berikan dulu kepada Ayyasy!". Si pembawa air pun langsung menuju tempat Ayyash. Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, ternyata didapatinya Ayyashs telah syahid. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun ia juga mendapati bahwa keduanya telah menemuisyahidnya.
2. Kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim
Abu Hurairah berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda: “Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.
Maka berdirilah salah seorang Anshar, yaitu Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan,apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua suami-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullahlalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .
Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q.S.Al-Hasyr :9).
Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.
3. Kisah Pembebasan sumur oleh Utsman Bin Affan.
Setelah kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka kembali mendapatkan kesulitan. Ternyata sumber air utama di kota itu berupa sumur yang telah dimonopoli oleh pemiliknya yakni seorang Yahudi. Air dijual dengan harga tinggi oleh pemiliknya itu.
Hal ini membuat kaum muslimin mengalami kesulitan, karena di tanah arab tidak terdapat sungai dan jauh dari sumber air, maka sumur itu menjadi salah satu sumber kehidupan yang sangat penting.
Kemudian Rasulullah SAW menyerukan kepada para sahabat agar ada yang bersedia membeli sumur itu untuk dipergunakan bagi kepentingan ummat. Utsman bin Affan tidak menyiakan kesempatan itu, beliau menyambut seruan Rasulullah dengan mendatangi tempat Yahudi pemilik sumur.
Awalnya yahudi itu mematok harga sumur  tersebut 20.000 dirham. Namun, karena yang membeli seorang muslim, dia ingin memperoleh keuntungan yang sangat besar dari sumur tersebut, si Yahudi bergeming tidak ingin menjual sumurnya. Utsman tak kalah cerdik, demi kepentingan ummat Islam, beliau melakukan negosiasi, beliau bersedia membayar 60% dari harga yang ditetapkan, yakni dengan harga 12.000 dirham (seharga 2,5 kgemas saat itu) dan sumur itu digunakan bergantian, sehari jatah si Yahudi menjual air sumur, sehari kemudian milik Utsman menjual air sumur. Tentu sajaYahudi itu setuju, karena dia berpikir akan menerima keuntungan berlipat ganda.
Pada giliran hak Utsman, maka umat muslim diperbolehkan mengambil air gratis bahkan dihimbau mengambil air sebanyak-banyaknya yang cukup untuk 2 hari. Maka ketika tiba giliran hak Yahudi, tidak satupun orang yang membeli air. Si Yahudi merasa sangat rugi karena tidak ada lagi yang membeli airnya, maka akhirnya dijual sisa haknya atas sumur itu kepada Utsman dengan harga 8.000 dirham. Sejak saat itu sumur tersebut dapat dimanfaatkan dengan mudah bagi siapa saja, termasuk si Yahudi tadi.
Itulah sedikit kisah dari para sahabat Rasulullah SAW dalam mengimplementasikan nilai itsar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang pernah langsung menatap wajah Rasulullah, berjalan bersama beliau, dan ditarbiyah langsung oleh Rasulullah seperti begitu mudahnya menerapkan nilai itsar dalam kehidupan mereka. Semoga kita juga bisa melakukan apa yang telah dicontohkan oleh mereka dan menunjukkan pada dunia bahwa islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.


Wallahu a’lam bis shawab.

Senin, 03 Agustus 2015

Rasulullah Mendengar Suara Mayat Disiksa, Pelajaran Menuju Akhir Zaman

ALLAH memberikan kemampuan kepada Rasul-Nya untuk mendengar orang-orang yang disiksa dalam kubur. Dalam hadis riwayat Muslim dikatakan bahwa Za’id bin Tsabit berkata:
Pada saat Nabi SAW berada di kebun Bani Najjar sambil naik keledai dan kami menyertainya, tiba-tiba keledai itu meyimpang dari jalanan, lari dan hampir saja menghempaskan beliau. Ternyata di situ terdapat kuburan enam, lima atau empat orang. Beliau SAW bertanya, “Siapa yang mengenal penghuni kuburan ini?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Kapan mereka meninggal?” Ia menjawab, “Ketika mereka syirik.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya umat ini diuji dalam kuburannya, dan kalau bukan karena kalian akan takut menguburkan, sungguh aku akan berdoa kepada Allah agar Ia memperdengarkan azab kubur yang kudengar kepada kalian.”
Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim dan Sunan an-Nasa’I, Abu Ayyub al-Anshari berkata bahwa Rasulullah SAW keluar pada malam hari setelah matahari terbenam. Tiba-tiba beliau mendengar suara dan bersabda, “Seorang Yahudi sedang disiksa dalam kuburnya.”
Dalil lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mendengar suara orang yang diazab dalam kubur adalah hadis riwayat Bukhari Muslim dari Ibn Abbas. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW melewati dua kuburan lalu beliau bersabda, “Keduanya sedang disiksa, tapi bukan karena dosa besar.”
Selain Rasulullah SAW yang Mendengar Suara Mayat yang Disiksa






Sebagian orang ada yang mengaku bahwa mereka dapat mendengar atau melihat orang-orang yang disiksa di dalam kubur. Di antara mereka adalah tokoh-tokoh terpercaya yang tak memiliki cacat dalam agama dan kejujuran mereka. Ibn Taimiyah berkata, “Terkadang hal itu tersingkap bagi orang-orang pada zaman ini, baik dalam keadaan jaga atau tidur. Mereka mengetahui dan memastikan kebenarannya. Kami dapat menyodorkan banyak hal mengenai hal itu.”
Dalam rangka membantah kalangan yang menolak adanya azab kubur, Ibn Taimiyah berkata:
Jika diketahui bahwa pada saat tidur, roh orang yang tidur duduk, berdiri, berjalan, pergi, berbicara dan melakukan banyak hal dengan batin bersama rohnya, dan badan serta rohnya memperoleh kenikmatan serta azab padahal jasadnya berbaring, matanya terpejam, mulutnya terkatup, anggota tubuhnya diam, dan terkadang ia bergerak dengan kekuatan gerakan dalam, terkadang juga berdiri, berjalan, berbicara dan berteriak karena kekuatan dalam batinnya. Maka, seperti inilah keadaan orang mati di dalam kubur. Rohnya, duduk, meminta, merasa nikmat dan sengsara, dan berteriak, pada saat yang sama ia masih berhubungan dengan badannya yang terbaring di dalam kubur. Terkadang hal itu menguat sampai Nampak pada badannya. Terkadang ia terlihat keluar dari kubur sedangkan azab masih menimpa dirinya dan malaikat azab menyertainya. Badannya bergerak, berjalan dan keluar dari kubur. Lebih dari seorang telah mendengar suara orang-orang yang sedang diazab di dalam kubur. Juga telah disaksikan mayat-mayat yang keluar dari kubur dalam keadaan tersiksa, dan mayat-mayat yang duduk. Namun hal ini tak selalu dialami oleh setiap mayat. Sama halnya dengan duduknya orang tidur, tidak selalu terjadi, akan tergantung pada keadaannya.” []
Sumber: Ensiklopedia Kiamat/Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi